Don't Ever Let Them In (Jangan biarkan mereka masuk)

“Don’t ever let them in.”

Aku takut akan kegelapan. Nenekku, di sisi lain, mempunyai ketertarikan akan kegelapan. Dia sangat menyukai dan menikmati kegelapan , semua jendela di rumah dia terhalang dinding dan beberapa jendela sisanya, kecuali untuk acara keluarga yang jarang terjadi seperti kunjungan keluarga, tertutup dengan beberapa lapis tirai hitam.

Pada saat aku berumur 16 tahun aku menyadari 2 hal, kecintaannya dan ketakutanku akan kegelapan terhubung dengan suatu alasan..

Pada saat aku kecil, aku sangat hiperaktif. Ibuku tidak pernah berurusan untuk mengendalikanku dan ayahku juga jarang mengendalikanku. Tapi aku sayang kakek nenekku , seperti yang orangtua ku bilang, aku selalu berperilaku baik saat nenekku berada di dekatku. Oleh karena itu orangtua ku sering menitipkanku ke tempat nenek sehingga mereka menikmati akhir pekan yang tenang.

Aku berumur 8 tahun saat nenekku meninggal. Pada saat itu aku sudah takut dengan gelap, kecuali, pastinya saat kakek nenekku berada di dekatku.

Selama 8 tahun aku sering berkunjung ke rumah nenek. Aku ingat dengan jelas bagaimana aku bermain dengan Kakek dan Paman Owen di kegelapan. Kita punya game game spesial, seperti petak umpet yang yang hanya bisa dimainkan saat rumah dalam keadaan sunyi, dan kakekku mengajarkan cara memahat kayu menjadi sendok dan seruling hanya dengan menggunakan indera peraba ku.

Aku tau persis saat wajah mereka bercahaya di saat gelap. Mereka berkulit putih terang, seperti mereka bercahaya dari dalam, dengan hanya pupil yang berwarna hitam di tengah.

Nenekku dulu selalu bekerja di sekeliling rumah, memasak dan membuat kue untukku, merapihkan dan menyiapkan tempat tidur. Ruangan selalu terasa hangat saat dia dia berada disana, dan seperti biasa, aku menanyakan kakeku dan Paman Owen untuk bermain denganku di ruangan tersebut.

Saat akhir pekan tersebut, aku tidak pernah merindukan cahaya. Bahkan di mimpiku, hanya berupa suara dan dan tidak pernah menampakkan benda yang dapat terlihat. Hari ini aku masih dapat bernavigasi dengan sempurna di kegelapan. Dan hari ini aku masih dapat melihat dengan sangat baik di kegelapan, dan sekitar umurku yang ke 16 ini aku menarik kesimpulan bahwa penglihatanku yang kuat pada saat malam merupakan penyebab ketakutanku terhadap kegelapan.

Ketakutan selalu menghantuiku selama aku mengingatnya dan di setiap malam aku tidur dengan lampu malam. Di akhir pekan tersebut, dengan nenekku, kegelapan tidak pernah menjadi masalah. Meringkuk ke badan hangat dia aku tidak pernah merasakan takut dan aku tidak pernah memikirkan sosok sosok yang berdiri di ruangan, di sekitar tempat tidurku.

Mereka hanya muncul pada saat gelap. Mereka tidak pernah muncul saat ada sedikit cahaya satupun, hanya saat sepenuhnya gelap di saat malam di ruangan tanpa jendela.

Nenekku memanggil mereka dengan sebutan ‘Outcasts’. Dia berkata bahwa mereka adalah keluarga dan teman, bekas orang dekat, yang ingin kembali dari sisi lain. Nenekku memberitahu ku lagi dan lagi bahwa aku tidak boleh membiarkan mereka kembali.

Aku ingat bagaimana Nenekku mengatakannya. Kita berbaring di kasur, kepala ku bersandar ke hangatnya pundak Nenek. Di belakang ku, kakekku sedang mendengkur dan saat aku menoleh, aku bisa melihat wajah dia yang bercahaya di kegelapan.

“Kamu bisa melihat perbedaan di muka mereka,” kata Nenek. 
“Wajah mereka lebih gelap. Tapi jika ingin lebih yakin, kamu harus melihat ke mata mereka. Jika mata mereka sehitam wajah mereka atau lebih gelap dari wajah mereka , maka mereka di sisi yang salah; mereka sudah mati dan harus tetap seperti itu tidak peduli seberapa besar kamu merindukan mereka.”

“Jadi, mereka tidak bisa datang?”

“Mereka tidak dapat datang, kecuali kalau kamu mengizinkan mereka untuk masuk.”

“Apa yang terjadi jika aku membiarkan mereka masuk?”

“Jangan pernah biarkan mereka masuk.”

Di dalam Kegelapan dibalik kegelapan, aku masih bisa melihat mereka sejelas garis pensil yang ditekan dengan keras di selembar kertas, garis pensil yang tidak hanya mewarnai kertas tetapi agak menekan dengan sendirinya ke kertas.

Malam itu Nenekku tidur lebih cepat, tetapi aku di kenyamanan tangan nenekku dan dengan kakekku di belakangku, melihat sosok sosok tersebut. Mereka bergerak dan berpindah, bersuara, dan kadang kadang berkelahi dengan yang lain; mereka mendorong satu sama lain ke samping dan belakang, berkelahi untuk mendapatkan tempat ke garis batas kehidupan.

Aku melihat sosok mereka dan aku mengenali ukuran dan gaya rambut mereka, sering kali aku bahkan tau apa pakaian yang mereka kenakan. Aku tidak pernah menanyakan tentang hal itu kepada nenekku, tapi untuk aku menyimpulkan bahwa ada cara mereka melihat pada saat itu , mereka melangkah dari kehidupan ke kematian.

Dengan nenekku, aku aman. Tapi tanpa dia, malam adalah terror. Mereka datang lebih dekat, mereka terlihat lebih aktif, lebih kasar, seperti ingin menerobos pembatas tersebut. Mungkin mereka lebih dekat karena aku lebih dekat untuk membiarkan mereka masuk, setengah takut dan setengah ingin tau.

Lampu malam adalah penyelamatku, tapi di malam itu saat orangtua ku lupa untuk mencolokkan lampu, maka kejadian itu terulang kembali. Mereka berdiri di atasku dengan sosok gelap mereka menekan ke kegelapan dan mata mereka sangat gelap, seolah olah berrongga.

Di umur yang ke 16 ini, aku mencoba untuk mengobati ketakutanku sendiri dengan “Shock Teraphy”. Aku melemparkan diriku sendiri ke suatu malam yang gelap, tetapi bukannya lebih baik, situasi menjadi lebih buruk.

Ada 1 sosok yang terutama paling lancang. Salah satu yang berukuran lebih kecil dengan rambut keriting yang tidak beratur dan dengan mata yang paling gelap dari semua makhluk tersebut. Aku selalu tau siapa dia. Dia muncul sejak aku berumur 8 tahun.

Di akhir umurku yang ke 16, aku menyerah dan menerima ketakutanku dan ketergantunganku terhadap lampu malam yang tidak kunjung berakhir. Saat aku masuk universitas , aku bahkan memilih apartemen dengan lampu jalan diluar sehingga cahaya tentunya bisa menambah terang ruanganku.

Pada umur 23 tahun, aku akhirnya mengerti kebenaran tentang ketakutanku.

Aku berada di rumah ibuku. Kita sedang menuang botol wine kedua , entah bagaimana kita berbicara tentang nenekku.

“Aku rindu dia,” Kata Ibuku.

“ Aku juga,” Kataku. “ Terkadang aku bermimpi tentang kue dia dan saat aku bangun aku bisa agak merasakan rasa vanilla.”

“Oh.” Kata Ibu. “Kakekmu suka kue itu juga.”

“Dia juga? Aku tidak ingat dia memakannya satupun.”

“Aku ingat bermain dengan kakek.”

“Oh, benarkah?”

“Ya, aku bermain dengan dia sepanjang waktu.”

“Benarkah? Kamu ingat itu?”

“Tentu saja!”

“Wow” Kata Ibu. “Aku sangat senang mendengarnya.”

“Aku juga.”

“Aku mengira kamu tidak dapat meningat dia karena kamu terlalu muda pada saat itu.”

Aku meminum sedikit wine ku dan membiarkan rasa pahit hilang dari mulutku.

“Aku tidak ingat aku pernah pergi ke pemakamannya…”

“ Tentu tidak.” Kata Ibu. “Aku meninggalkanmu ke rumah temanmu dan pergi ke pemakamannya.”

“Apa? Kenapa?”

“ Kami pikir kamu tidak akan mengerti ini. Kamu hanya berumur 2 tahun saat kakekmu dan paman Owen kecelakaan...”


Saat aku berumur 16 tahun, aku mengira bahwa aku takut akan sosok yang berdiri di garis batas ke dunia kita.

Sejak aku berumur 23 tahun, aku tahu bahwa aku tidak sebenarnya takut akan sosok sosok tersebut. Aku takut dan membayangkan berapa banyak Outcasts yang telah diperbolehkan kembali masuk…